SPONSOR

Friday, March 2, 2012

KOMUNITAS PUNK, BEBAS & DIY


Di perempatan depan Kantor Kelurahan Mojosongo, dekat TA-TV, Solo, Jawa Tengah, setiap hari berkumpul anak-anak Punk. Jumlahnya cukup banyak. Hampir semuanya berusia muda. Di antara mereka ada empat orang primadona, empat gadis manis, seusia anak SMP. Jadi masih belia juga. 
Setiap harinya mereka hepi, seakan tidak ada beban apapun, meski hidup sebagai street-punk, atau punk-jalanan. Cara mencari uangnya pun simpel saja. Mengamen di perempatan jalan. Kalau udah dapat uang receh, dikumpulkan, untuk menghidupi seluruh group tersebut.
Sudah sering keberadaan mereka ini dirasia, baik oleh pihak kelurahan Mojosongo, maupun pihak Polres Jebres yang membawahi wilayah tersebut. Biasanya mereka lari ke kampung di dekatnya, dan banyak yang bersembunyi di masjid. Memang kalau sore, mereka mandi di mesjid setempat. Pengurus masjid, karena pertimbangan kemanusiaan, membiarkan saja ulah mereka. Orang kampung sekitar pun  tidak mengeluh, karena khusus anak-anak Punk yang mangkal di perempatan Mojosongo ini, tidak ada yang berbuat kriminal.
Mereka tidak pernah mengganggu warga. Mungkin kalau dikatakan mengganggu, hanyalah penampilan mereka yang awut-awutan, seronok, rambut punk, pakaian serba aneh, dan asesoris memenuhi tubuh mereka yang dihiasai tato. Disamping itu, kadang mereka tiduran berpasangan, di keteduhan pohon pekarangan salah satu penduduk setempat. Menyanyi sambil memetik gitar, kadang bersorak ramai. Hanya kegaduhan kecil-lah, kalau memang dianggap mengganggu.
Salah seorang penduduk yang bernama Bu Atun, ibu muda yang pekarangan rumahnya untuk mangkal anak-anak punk, malah punya ide bagus. Mereka boleh mangkal di pekarangannya, tetapi tidak boleh mabuk dan harus tertib. Mereka setuju. Karena Bu Atun membuka toko, mereka setiap hari kalau makan pagi atau siang, dilayani. Tinggal dibuatkan indomie rebus atau goreng, bisa dengan telur. Minumnya, ada air Aqua botol, gelas, atau kopi mixs.
Toko jadi ramai dan laris, anak-anak punk gembira, bisa punya tempat untuk berteduh. Secara kebetulan, pekarangan rumah Bu Atun luas, berada di tepi jalan dekat perempatan Mojosongo. Ada beberapa pepohonan mangga besar yang rimbun. Jadi kalau siang dan panas terik, mereka bisa berteduh. Warga setempat karena sudah terbiasa melihat mereka, lama-kelamaan juga jadi terbiasa dan merasa tidak terganggu.
Mengamati kehidupan anak-anak Punk memang mengasyikkan. Ternyata, tidak semuanya anak gelandangan. Sebagian besar, malahan dari keluarga baik-baik. Ada yang ayahnya tentara, pegawai negeri dan bahkan pengusaha. Seorang gadis belia yang mengaku bernama, Yulia (15 tahun) yang ikut mangkal di perempatan Mojosongo, kepada Obyektif Cyber Magazine, baru-baru ini mengaku dari keluarga pedagang yang tinggal di Boyolali.
“Apakah orang tuamu tidak mencarimu, mengingat kamu masih seorang gadis kencur (gadis belia)?” tanyaObyektif, belum lama ini. Dijawab: berkali-kali dia diminta orang tuanya untuk kembali ke rumah, tetapi tidak mau. Pulang sebentar ke rumah, dan kembali menggelandang lagi. Hal yang sama juga dibenarkan oleh kawan-kawannya yang lain. Terutama anggota punk yang dari para gadis belia, rata-rata mengatakan hal yang sama. Tidak kerasan tinggal di rumah orang tuanya berlama-lama. Pergaulanlah yang mempengaruhi mereka hidup sebagai street-punk.
Kehidupan sebagai anak-anak punk jalanan ini, seperti revolusi sosial saja. Cobalah tengok, di Jateng, hampir di semua kota besar ada komunitas anak-anak punk jalanan. Mereka mangkal di perempatan-perampatan traffict light (lampu bangjo). Sebagian besar anak-anak remaja dengan dandanan meniru kelompok punk luar negeri. Mungkinkah keberadaan mereka merupakan indikator kegagalan pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat? Lalu apakah yang mereka cari?
Inilah jawabannya, sesuai dengan semboyan mereka. Ingin hidup bebas dan DIY. Apa itu DIY? Do It Yourself. Jadi terjemahan bebasnya, mereka ingin hidup bebas dan mandiri. Tujuan yang mulia, kalau membaca semboyan mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah, mereka rela meninggalkan bangku sekolah, hanya untuk menggelandang di jalanan. Tentu saja tanpa masa depan yang pasti. Rawan penyakit, rawan kekerasan, rawan pemerasan, dan ini yang dikhawatirkan: Rawan seks bebas. Ah. (Daniswari Anggadewi).
                                                       ----------------------------------------------  
 MELANDA DUNIA
Ingin hidup bebas di jalanan, bukan hal baru. Sejarahnya cukup panjang. Dimulai dari adanya kelompok Gipsy ratusan tahun yang silam, sudah ada komunitas seperti itu. Hidup bebas di jalanan, menari, hubungan bebas, dan hidup nomanden (berpindah-pindah tempat). Kehidupan kaum Gipsy ini terekam dengan jelas lewat kisah “Si Bongkok dari Notre Dame” karya besar Victor Hugo, pengarang Perancis yang menulisnya pada abad ke-18. Kisahnya juga sudah diangkat ke layar lebar dalam berbagai versi. Kaum Gipsy ini juga punya ketua atau raja sendiri. Aturan main sendiri, undang-undang sendiri, dan tidak tunduk pada pemerintahan yang sah pada waktu itu.   
Setelah Gipsy, pada jaman modern, munculah di Amerika kaum Hippies. Berambut gondrong merong, kaca mata hitam, memakai seragam jean belel. Penampilan mereka juga seronok. Hidup bebas di jalanan, mengisap ganja, main musik, mabuk-mabukan, bersenang-senang setiap hari, dan hidup tanpa masa depan dan tanpa beban. Adanya perilaku hidup bebas di jalanan ini pun melanda dunia. Tidak hanya monopoli negara barat saja, tetapi juga melanda negara lain, bahkan sampai ke Indonesia. Pada waktu itu, di kota-kota besar negeri ini, anak-anak muda banyak yang hidup bergaya Hippies.



Sekian tahun lalu, dunia pun kembali dikejutkan munculnya komunitas Punk. Konon Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok Punk selalu diharu-biru oleh golongan Skin-head. Namun, sejak tahun 1980-an, saat Punk merajalela di Amerika, dua golongan yang berseteru tersebut, malah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama.
Perkembangan selanjutnya, punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika, yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan. Saat itu, Negeri Paman Sam tersebut dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang berakibat meningkatnya angka pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai pengacau dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk, karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal. Apakah gerakan anak-anak punk jalanan di kota-kota besar di Jateng dan juga di Indonesia ini,  juga akan meniru punk jalanan dari Inggris, walahualam.
Namun tindakan tegas dari Pemda setempat terhadap anak-anak punk jalanan, akhir-akhir ini cukup gencar.Para aparat menangkapi mereka, mencoba membinanya, agar mereka tidak kembali menggelandang di jalanan. Seperti di Aceh baru-baru ini, anak-anak punk ditangkapi, digundul, dan dididik militer. Akankah anak-anak punk punah dengan adanya tindakan para aparat tersebut? “Selama kami masih bernafas, kami akan memperjuangkan kebebasan kami,” teriak anak-anak punk jalanan yang demo di beberapa tempat, menyuarakan aspirasi mereka. Satu lagi, problema di negeri ini.

No comments:

Post a Comment